Renungan Untuk Ayah dan Calon Ayah | Cerita Ku

Senin, 05 Maret 2012

Renungan Untuk Ayah dan Calon Ayah

"Renungan untuk ayah" dari Neno Warisman:

"Izinkan Aku Bertutur"

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"

Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku." Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya  ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti  panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata:  Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat  bahagia dengan kehadirannya. Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti  papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat  mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago  matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang  keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat  Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin  menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu  dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahmad jadi  pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia  tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah  marah.  Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan  alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah  selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah  membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.  Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil  tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas,  persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung  dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih  pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi  mungil itu. Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih  duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup  lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku  serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan  padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak  di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki,  kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar  anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan  anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan  menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini  bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf  halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya  menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian.  Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita!  Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada  perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan  seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan."

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.  Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di  tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi  harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan  suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk  mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, seakan merancang hari depan si bayi sambil  tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama  mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan  betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah  menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak  pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak  oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah  penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Aamiin, Semoga Menginspirasi Kebaikan ...


5 komentar:

  1. Makasih ya sudah membagi cerita ini..
    Terharu dan belajar menjadi seorang ibu dalam cerita ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 ...^_^

      wah sedang siap2 menjadi ibu kah? barakallah.. :)

      *jadi ngiri nih ;)

      Hapus
  2. Renungan yang bagus Sob.,., :D
    Salam.,.

    BalasHapus
  3. nangis bacanya, be a great mother and grandmother, :')

    BalasHapus
:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))