Komitment Muslim Sejati
Judul asli’y sih : Madza Ya’ni Intima’i Lil Islam karya
Fathi Yakan.
Ada dua bab didalam’y.. yang pertama selalu berurusan dengan internal
.. yups “Apakah Artinya Saya Mengaku Muslim?” . Lalu bab yang kedua berurusan
dengan jama’ah.. yups “Apakah Artinya Saya Berafiliasi Kepada Pergerakkan Islam?”
Bahas satu-satu yuks.. ^_^
Apakah
Artinya Saya Mengaku Muslim?
Sebener’y isi buku ini tuh
hampir sama kayak 10 Muwashofat Pribadi Muslim.., tapi lebih mudah dicerna
bahasa’y di dalam buku ini, buku pegangan bagi para Muslim [in/at] ^_^ ..
Trus maksud dari sub bab yang pertama itu apa sih? .. B-)
Yup pemirsah, kata pak Fathi
Yakan, pengakuan sebagai muslim bukanlah sebuah klaim terhadap suatu identitas,
terhadap pewarisan, juga bukan terhadap penampilan lahir. Melainkan pengakuan
untuk menjadi orang islam yang berkomitmen terhadap Islam, dan beradaptasi
dengan Islam dalam setiap urusan. Secara gitu Allah udah kasih petunjuk di
Al-Qur’an surat Al-Haj : 78
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan
(begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah
Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”
Hmm.. lebih merucut’y kita
lihat apa aja sih karakter yang harus dimiliki seorang muslim itu..
Pertama
: Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya
Syarat pertama pengakuan
sebagai Muslim adalah berakidah yang BENAR, yang selaras dengan Alqur’an &
Sunnah Rasulullah saw. Apa aja sih, konsekuensi’y jika mau lulus syarat pertama
ini? Yups Pak Fathi Yakan, menyebutkan ada 19 konsekuensi, yaitu:
1.
beriman kpd Allah sbg Pencipta.
Penyeimbang Alam, Maha Tinggi & Maha Kuasa (QS Al-Anbiya:22)
2.
beriman bahwa segala sesuatu
yang diciptakan tidak ada yang sia-sia (QS Al-Mukminun : 115-116)
3.
Beriman bahwa Rasul &
Kitabullah, mengetahui asal-usul sejarah’y (QS An-Nahl : 36)
4.
Ma’rifatullah, Mengenal Allah (QS.
Adz-Dzariyat 51:56-58)
5.
Yakin bahwa surga merupakan
balasan bagi mukmin yang tha’at (QS. Asy Syura : 7)
6.
Melakukan kebaikan/kejahatan
merupakan pilihan (QS. Asy Syam :7-10 & QS. Al Mudatstsir :38)
7.
Urusan penciptaan undang-undang
adlh hak mutlak Allah (QS. Asy Syura :10)
8.
Mengetahui asmaul husna &
sifat2 Allah.. (bagus’y dihafal)
9.
Merenungi kehebatan atas
kejadian2 Allah bukan tentang Dzat-Nya. Ada hadits juga : “Berfikirlah kamu tentang makhluk ciptaan Allah dan janganlah kamu
memikirkan tentang ZatNya kerana kamu tidaklah mengetahui keadaan sebenarnya.” (Hadis
diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al-Halyah dan Al- Asbahani
meriwayatkannya di dalam Al-Taghrib wa Al-Tarhib)
10. Berhubung
dengan sifat-sifat Allah
11. Yakin
& mengikuti pendapat serta pandangan para salafusshalih
12. Mengabdikan
diri hanya kepada Allah semata (QS. An Nahl :36)
13. Takut
hanya kepada Allah yang menyebabkan menjauhi kemurkaan Allah & larangan-Nya
(QS. An-Nur : 52, dan QS Al-Mulk : 12)
14. Senantiasa
mengingat Allah & berdzikir menyebut nama-Nya. Diam=berfikir,
bercakap=berdzikir (QS. Ar-ra’d :28, dan QS Az-Zukhruf : 36-37)
Dr
Brill mengatakan “ Seorang agamis sejati tidak akan pernah menderita sakit Jiwa
sama sekali”
15. Mencintai
Allah yang akan membuat senantiasa rindu & terikat denganNya, mendorong
amal kebaikan, berkorban, & berjihad di jalanNya (QS. At taubah : 24)
16. Bertawakal
kepada Allah dalam setiap urusan & keadaan yang membangkitkan kekuatan
lahir - batin (QS. At-Thalaq :3)
17. Mensyukuri
segala nikmat yang merupakan tanda kemuliaan adab seseorang penerima terhadap
Pemberi & Pengarunia. (QS. An-Nahl :78 ;
QS. Yasin :33-35 ; QS Ibrahim : 7)
18. senantiasa
beristighfar yang dapat membersihkan diri dari dosa & memperbaharui taubat
dan iman, serta memberikan ketenangan. (QS. An-Nisa :110, dan QS Ali-Imran :
135)
19. Senantiasa
ber-muraqabah(diawasi) dengan Allah dalam setiap keadaan (QS. Al-Mujadalah : 7)
Kedua
: Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
Ibadah adalah puncak
ketundukkan& puncak kesadaran mengenai keagungan ma’buud. Ibadah merupakan
tangga yang menghubungkan makhluq dengan al-Khaliq. Ibadah juga memiliki
pegaruh terhadap interaksi antar sesama hamba Allah.<ingat Rukun Islam kan yg lima point itu>
Katakanlah:
Sesungguh’y shalatku, ibadahku, hidup & matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan
Semesta Alam. (QS Al-An’aam)
Sama hal’y yang pertama, ada
konsekuensi untuk kita terima & jalankan untuk mengislamkan ibadah kita.
1.
Ibadah yang dilakukan memiliki
hubungan dengan Allah, istilah’y itu Ihsan dalam ibadah.
2.
Ibadah penuh Khusyuk, sehingga
dapat merasakan manis’y iman
3.
Beribadah merasakan kehadiran
Allah, membuang & melupakan urusan duniawi.
4.
Beribadahlah dengan senantiasa rajin
& tamak untuk menambah kuantitas’y, kayak amalan2 sunnah misal’y.
5. Qiyamul-Lail / Tahajud sebagai
ibadah yang paling bernilai. So latihlah diri kita supaya menjadi suatu
kebiasaan, karena merupakan sumber power untuk memantapkan Iman.
6.
Meluangkan waktu/ menjadwalkan
untuk membaca Al-Qur’an (utama di waktu dhuha)
7.
Menjadikan doa sebagai
perantara setiap urusan dengan Allah.
Ketiga
: Saya Harus Mengislamkan Akhlaq Saya
Berakhlaq mulia merupakan
tujuan pokok dari risalah Islam. Rasulullah pernah berkata : “Sesungguh’y aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq”
Keimanan tidak akan ada nilai’y
tanpa akhlaq. “Iman bukanlah dgn angan2, akan
tetapi apa yg bersemayam dihati & dibuktikan oleh perbuatan”(HR
Dailami). Akhlaq akan menjadi timbangan amal seorang menjadi berat pada hari
kiyamat. Akhlaq mulia adalah buah dari ibadah dalam islam. Tanpa itu, ibadah
tak ubah’y gerakan2 atau upacara yang tidak memiliki nilai & faedah sama sekali.Seperti
apakah akhlaq yang islami itu?,,
1.
Menjauhi hal2 yang
syubhat<keragu-raguan> atau harus bersikap wara’ <kehati-hatian>
2.
Memelihara pandangan (Gadhul
Bashar)
3.
Memelihara Lisan
4.
Memiliki sifat Hayaa’ (malu)
5.
Pemaaf & Sabar
6.
Jujur
7.
Rendah hati (khusus’y kepada
saudara2 Muslim tanpa membeda-bedakan antara kaya & miskin)
8.
Menjauhi Prasangka, Ghibah
9.
Bermurah Hati (QS Al-Anfal : 3)
10. Menjadi
uswatun hasanah
Keempat: Saya Harus Mengislamkan Keluarga Saya
“Barang siapa yang tidur nyenyak
dan tidak mengambil peduli urusan umat Islam maka ia bukan dari golongan
mereka”. (Hadith riwayat al-Baihaqi dalam “Shuab
al-Iman”, at-Tabari, Abu Nua’im dalam “Hilyah” dan al-Hakim.)
Tanggung Jawab sebelum berkeluarga:
1.
Pernikahan
itu hendak’y karena Allah
2.
Menjadikan
pernikahan bertujuan untuk menjaga pandangan & memelihara kemaluan serta
bertaqwa kepada Allah
3.
Memilih istri/
suami yang baik
4.
Memilih
wanita/ laki-laki yang baik akhlaq’y & pegangan Agama’y
5.
Berhati-hati
supaya tidak menyalahi perintah Allah
Tanggung
jawab setelah berkeluarga:
1. Berlaku baik & memuliakan istri/ suami
agar saling mempercayai
2. Hubungan dengan istri harus dapat menjalinkan
kefahaman dalam pemikiran, jiwa & kasih sayang
3. Hubungan dengan istri/ suami tidak keluar
dari batas syariat.. & bersama-sama bertanggung jawab mendidik anak.
Kelima : Saya Harus Mengalahkan Nafsu Saya
“Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syam : 7 - 10)
Golongan
Manusia:
1. Golongan yang tunduk terhadap hawa nafsu’y (QS
Al-Jatsiah : 23)
2. Golongan yang bermujahadah & bertarung
menentang hawa nafsu’y (QS Ali-Imran : 135)
Kita
termasuk yang mana nih??,, adapun kekuatan dalam memerangi nafsu jahat &
tercela dalam diri kita yaitu hati & akal. Cahaya akal seorang muslim itu
senantiasa bersinar, tidak dapat dipadamkan kecuali oleh kerja2 maksiat yang
berkekalan, dilakukan pula secara terang2-an & tidak pula diikuti dengan
taubat.
Bagaimana
sih supaya terhalangani dari godaan syetan?, Syetan itu sendiri masuk melalui
celah keburukan manusia, yaitu tamak & berburuk sangka, maka solusi’y
Hadapi dengan menaruh kepercayaan. Masuk juga melalui penyakit manusia jaman
sekarang al-wahn (Cinta Dunia Taku Mati), maka hadapi dengan takut &
mengingat Mati yang datang kapan pun. Lalu Syetan masuk terhadap celah cinta
beristirahat & kemewahan pada diri manusia, maka tebaslah dengan meyakini
hal itu semua akan hilang & balasan buruk pasti menanti. Datang pula godaan
syetan itu melalui celah sifat manusia yang kagum terhadap diri sendiri &
memandang rendah orang lain, maka solusi’y kenali hak2 orang lain atas diri
kita. Hasad, dengki, riya’, bakhil serta takabbur merupakan celah yang sangat
lebar & luas untuk masuk’y godaan syetan kepada kita, maka tawadhu’ – Lah. Untuk
semua’y akan bisa kita hindari & kita lawan dengan senantisa mengingat
Allah setiap memulai pekerjaan. Adapun cara2 yang lebih kongkrit lagi untuk
menghindar dari godaan syetan, yaitu:
1. Jangan Terlalu kenyang makan, meskipun
makanan yang baik & halal (QS Al-A’raf : 31)
“Sesungguhnya
syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam mengikut perjalanan darah. Oleh itu
sempitkanlah pintu masuknya dengan kelaparan”.(Hadis
riwayat Ahmad)
2. Membaca al-Qur’an, berdzikir mengingat Allah
& memohon ampun.
3. Tidak terburu-buru & berhati-hatilah
Keenam : Saya harus yakin bahwa masa depan
adalah milik islam
Islam
adalah satu-satu’y manhaj yang selaras dengan kehendak fitrah manusia &
dapat mengimbangi tuntutan lahiriah & rohaniah insan.
Oke
segitu dulu, untuk Bab yang
kedua yaitu yang berurusan dengan jama’ah.. yups “Apakah Artinya Saya
Berafiliasi Kepada Pergerakkan Islam?” kita sambung besok2 yaah J
Mohon ampun kepada Allah, &
semoga resume buku ini bisa memberikan manfaat khusus’y untuk diri saya
sendiri. Dan jika ada kesalahan & hal2 yg melenceng.. Mohon koreksi’y .. J