Cerita Ku: Mei 2011

Kamis, 26 Mei 2011

Bapak, you're my beloved man!!

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya..
Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ibu bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…..
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu.

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah

Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT….kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…

Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Dan akhirnya….

Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Ayah telah menyelesaikan tugasnya….

Ayah, Papa, Bapak, atau Abi kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Abi kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
<Yang Terbaik Bagimu - Ada Band feat Gita Gutawa>




Yes I love you so much, Pak…

my beloved man...

Senin, 23 Mei 2011

ketika Ukhuwah Merekah Di Jalan Dakwah


Ketika ukhuwah merekah di jalan dakwah
indah …
lalu lebih indah …
kemudian menjadi amat indah…

Ketika ukhuwah semerbak di jalan perjuangan
ada manis ... ada terjal
ada tangis ... ada kesal
ada renjana ... tak digubris
saling mendoa pun dikhusyukkan

Ketika ukhuwah semakin merekah di jalan dakwah
berbagi beban ... berbagi airmata ... berbagi asa & mimpi
menjadi kenikmatan yang dinanti

Berbagi bahagia ... berbagi canda
menjadi niscaya
Niscayalah pengorbanan
maka …
Niscayalah keindahannya
Niscayalah harumnya
Niscayalah manisnya
Niscayalah … Surga
(sepenggal puisi dlm draft cerpen “Ijinkan aku Memilihmu”)

Sungguh Indah, Persaudaraan dijalan Allah. Sungguh indah, Takdir Allah itu.. mempertemukan kita, uji kesetian dan kemanisan iman agar kita bisa merasakan betapa indahnya ukhuwah itu.

Ingat kata-kata seorang swdari seperjuangan, “ anti pernah makan buah mengkudu??”, saya geleng kepala, “Belum Pernah, rasanya ngga enak kan?, bau lagi..hhhiiiyyyy, kenapa??” , “kata siapa ngga enak?, enak kok. Itu hanya masalah bagaimana anti memakannya, dan keadaan apa ukhti aeny memakannya. Lagian anti kan belum pernah makan buahnya, gimana bisa bilang ngga enak??” jawabnya. “ya kata orang-orang, mereka bilang ngga enak, berarti ngga enak” pembelaan saya waktu itu. Lalu dia jawab, “Kok kata orang? hmm jangan men-judge gitu, yang bisa bilang itu enak atau ngga enak Cuma orang-orang yang udah pernah makan & merasakannya!!”.

Benar, kita tidak bisa tahu betapa nikmatnya ukhuwah itu, betapa indah ukhuwah itu, sebelum kita jatuh kedalam proses ukhuwah. Orang lain yang hanya mendengar cerita tentang ukhuwah.. hmm, pasti tak terbayangkan nikmat & indah yang seperti apa ukhuwah itu. Yang tahu, hanya orang-orang yang ada didalamnya.


Ukhuwah bermula dari TA’ARUF (perkenalan) tidak hanya kenal muka, kenal nama, tahu alamat & punya no contact-nya, bukan Cuma itu!! Tapi ta’aruf harus bisa memenuhi proses Ta’liful Qulub, Ta’liful Fikr, & Ta’liful ‘Amal. Setelah ta’aruf lulus, berlanjut TA’ALUF (satukan hati) & TAFAHUM (saling memahami). Lalu berlanjut kepada TANASHUH (menasihati hati), lalu TA’AWUN (saling tolong menolong) hingga step yang terakhir TAKAFUL (merasa senasib). Itulah Rukun Ukhuwah Islamiyah.


Ingat, kata Syeikh Hasan AlBanna tentang ukhuwah. Menurutnya ukhuwah islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran : 103)

Ukhuwah, merupakan nikmat Allah! Yups Sepakat !! bukankah Allah yang mepersatukan hati-hati kita & menjadikan antara kita adalah saudara. Itu nikmat Allah, yang tidak bisa kita ingkari!

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf : 67)

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal : 63)

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat : 10)

Berbicara Ukhuwah, berbicara keindahan. Indahnya ukhuwah untuk kali pertama, saya rasakan di dunia sekolah, ketika saya & saudara-saudara seperjuangan tersentuh tarbiyah dengan konflik yang cukup Luar Biasa untuk kami, yang baru masuk kedunia Tarbiyah. 


ALLAH mengajarkan kami survive, memegang teguh jalan Allah. Allah memaksa kami untuk belajar apa yang Allah suka. Allah membimbing kami untuk bisa memahami dan bekerja jama’i, bergandengan tangan dengan tak henti-hentinya bertakbir. Politik yang sedang memanas, mencari kepercayaan dari para guru hingga kepala sekolah, mencari masa dakwah penerus hingga berhadapan dengan Aktifitas Harakah Lain (AHL), yang sama-sama berjuang di sekolah. Huft.. membayangkan itu semua, Lelah, Nyerah! Tapi Allah, tak pernah memberikan hal yang sia-sia. saya lagi-lagi belajar, saya merasakan ukhuwah didalamnya. Hingga kini. Walau kami terpisahkan oleh waktu, jarak hingga aktifitas. Namun, ukhuwah itu tetap ada melekat.

Berbicara Ukhuwah, berbicara keindahan. Indahnya ukhuwah pun saya dapatkan di dunia dakwah kampus. Namun, prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Yups, karena menyangkut seluruhnya tentang Problematika Internal Kader. Proses yang panjang, lelah, jenuh. Itu semua pantas, karena problem terberat bagi semua jama’ah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan. Problematika internal yang ada dalam dunia saya saat ini adalah problem kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lalu, lalu penyesuaian diri. Klasik mungkin, tapi menurut saya itu sebuah kepastian, semua para aktifis, semua organisasi pernah mengalaminya.

Namun, lagi-lagi Allah mengajarkan saya akan indahnya persaudaraan yang dilandaskan aqidah. Konflik yang pelik ini, menuntun kami pada sebuah kata, Ukhuwah!

Walau kita akan berpisah, namun kita tetap berjalan beriiringan menuju yang satu, Ridha Allah. Bukankah Allah yang mempertemukan kita, maka hak Allah pulalah yang memisahkan kita. Pertemuan dan perpisahan ini, sudah tercatat dalam kitab Lauh Mahfudz jauh sebelum kita ada di bumi. Maka ini adalah ujian!



Disini kita pernah bertemu
mencari warna seindah pelangi
ketika kau menghulurkan tanganmu
membawaku kedaerah yang baru
dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah..
dendangan lagu tanda ingatanku
kepadamu teman
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu tak kan kulupa
walau badai datang melanda
walau bercerai jasad & nyawa

Mengapa kita ditemukan
dan akhirnya kita dipisahkan
mungkinkah menguji kesetiaan, kejujuran
dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
bertemu berpisah kita
adalah rahmat dan kasihnya
andai ini ujian terangilah
kamar kesabaran
pergilah gulita hadirlah cahaya.. (Brother-Untukmu Teman)

untukmu sahabat-sahabat FORMASI, semoga Allah tetap mengikat hati-hati kita dalam dekapan ukhuwah, dan istiqomahkan kita ada dijalan-Nya. Untukmu saudara-saudara seperjuangan di FORMASI, maafkanlah diri ini, jika saat memegang amanah, diri ini dzolim pada kalian, ikhlaskan semua khilaf diri pada kalian agar Allah mentaqdirkan kita bertemu dan berkumpul dalam Surga-Nya kelak. 


Untukmu yaa Ikhwanul thariq fii FORMASI, wahai saudara seperjuangan, terima kasih sudah ada dalam sejarah hidup saya, mewarnai setiap catatan-catatan takdir saya. Senang, tidak suka, bahagia, sedih, tertawa, menangis, bangga, kesal dan marah, ringan hingga berat. Ketika ukhuwah merekah dijalan dakwah, maka semua itu indah.

Perpisahan, pergantian bukanlah sebuah akhir. Perjuangan kita masih panjang, masih akan menemui perjalanan yang lebih terjal, curam dan membutuhkan perjuangan kita yang lebih besar lagi. Bukankah istirahat kita adalah kematian? Bukankahkah akhir dari perjuangan ini, adalah sampainya kaki kita di Surga-Nya? Bersiaplah wahai sahabat!!
 -Untukmu FORMASI-

Jumat, 20 Mei 2011

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

 <alm> K.H. Rahmat 'Abdullah
________________________________________
Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW : "Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai." (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq". Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).

Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus' shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).

Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila 'hati saling bertaut dalam ikatan aqidah', ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta'lim, rukun Ukhuwah).

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. "Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).

Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.

Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau da'wahku ?".


Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah tersebut sudah menikmati berkah da'wah.

 "in lam takun bihim falan takuna bighoirihim".

Di Titik Lemah Ujian Datang

Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163 : "Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka". Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian.

Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.

Seorang masyaikh da'wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Syaikh tersebut.

Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan me-nyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.

Iman dan Pengendalian Kesadaran Ma'iyatullah

Aqidah kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan menghalangi kewajiban da'wah. Apa mereka fikir orang-orang itu bergerak sendiri dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain yang tidak menghalangi aktifitas utama dalam da'wah? Tanyakan kepada pakarnya, aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai segalanya? Mengapa mereka yang melalaikan tugas da'wahnya tidak berfikir perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya batu ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da'wahnya atau keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari kekayaan ALLAH ?

Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan. Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan "Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan. Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus.

Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya' mungkin- dimasa ujian - akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun.Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya 'selamat' dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.

Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan.

Seni Membuat Alasan

Perlu kehati-hatian - sesudah syukur - karena kita hidup di masyarakat Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. "Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? "Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, "Afwan ya Akhi".

Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar
Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita 'menyumbangkan' karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah. "Mereka membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan : 'Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang jujur" (Qs. 49;17).


ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu - karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna - menunggu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : "Nah, rasain !" Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.

Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : "Untukmu pun hak seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan cinta fi'Llah.

Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.

Senin, 16 Mei 2011

Aku Berjodoh Dengan FORMASI

Berawal menginjakkan kaki di sebuah kampus di bandung, sendiri, takut dan mencari. Dimana yaa ikhwah Tarbiyah?? Akankah aku yang menemukan atau ditemukan?? Alhasil aku yang diTEMUKAN.


Masuk dalam organisasi keislaman dengan jantung dakwah, Tarbiyah. Ada segudang keanehan, jika harus memilih aku nyaman & sangat bersedia jika aku harus mengorbankan waktu, tenaga, materi dan fokus di Dakwah Sekolah. Sayang aku diamanahi untuk fokus dengan dakwah kampus, Liqo dikampus & tarbiyah di kampus. 


Sempat kesal dan futur, hingga 1 tahun lamanya aku melarikan diri dari organisasi itu, walaupun liqo’at tetap jalan. Di tahun ke dua aku dituntut sang murabbiah untuk tetap berada di organisasi yang aku baru memahami, namanya FORMASI (Forum Mahasiswa Islam). Aku mengenal orang-orang baru, dengan sikap dan sifat masing-masing , dan aku pun mulai BERADAPTASI.


Aku tidak terlalu asing dengan dakwah Fardiyah, Dakwah jama’i, Kaderisasi, Dakwah Khassah, Dakwah ‘ammah dan lain-lain. Tapi aku harus beradaptasi lebih, bahkan dari nol beradaptasi dengan saudara-saudara seperjuangan yang baru, dengan manhaj yang baru dan dengan ranah yang berbeda. Akhirnya aku di TETAPKAN dalam divisi Kaderisasi. Seharusnya aku tidak canggung dengan amanah ini, seharusnya aku tidak buta dengan jabatan ini, tapi anehnya aku mengalami kemunduran yang drastis ketika menduduki amanah ini. 


Bahkan mencari-cari alasan, hingga aku menemukan alasan yang sangat kuat bahwa aku sedang tidak suka 1 orang dalam satu divisi, bukan membeci orangnya, bukan namanya, bukan. Bukan itu!! Tapi aku tidak menyukainya karena sikap dia dalam mengambil keputusan dan terlalu keras, wajar sih jebolan KAMMI, tapi tetap aku tidak bisa menerimanya. Aku MUNDUR PERLAHAN.


Rasa tidak suka itu ada, masih ada!! Hingga pertengahan tahun ketiga (memasuki tahun ke-4) belum sampai pada kemunduran yang fatal, lagi-lagi Allah mentakdirkanku tetap di FORMASI. Aku diamanahi menjadi ketua keputrian, suatu ujian yang tidak pernah aku sukai (sebelum-sebelumnya disemua organisasi, aku ber-statement bahwa aku siap ditempatkan dimanapun asal bukan menjadi seorang KETUA/Pemimpin) hufft. Namun, Tarbiyah mengajarkanku lain, aku suka atau tidak suka harus berusaha menerima, dan menjadikannya lebih baik. Aku menjalani PROSES sebagai ketua keputrian dan bagian dari P****IN (sstt Hidden).


Indahnya proses itu, aku belajar memahami orang lain, belajar melihat sisi saudara-saudara seperjuangan dengan berbagai sudut pandang yang berbeda, berusaha memanage hati dan fikiran untuk tetap positif. Luar Biaasa!! 


Rasa tidak suka, jenuh dengan keadaan di FORMASI yang terus bergulat dengan internalnya, bingung dan lelah memahami setiap personalnya, capek dengan qodoya yang sangat klasik yang juga terkadang solusinya sudah ada di depan mata. Belum lagi dakwah fardiyah yang jauh tertinggal dari target. Jika harus dijabarkan satu-per-satu, membuat dada ini sulit bernafas dan mata ini kehabisan air mata untuk dikeluarkan. 


Hal itu hilang beriringan dan sejalan dengan proses. 


Aku bersyukur kepada Allah yang menuntunku dan mentakdirkanku bertemu orang-orang Luar Biasa di FORMASI. Yah, bahkan saat ini aku kagum dengan mereka, salut dan kuberikan 2 jempol untuk mereka saudara-saudara sperjuangan ku di FORMASI di Dakwah Kampus. Aku belajar dari mereka, aku malu pada mereka, tak berlebihan jika aku menjadikan mereka bagian dari orang-orang yang menginspirasi hidupku. Bahkan aku bisa nangis sesenggukkan didepan orang lain (selain keluarga) ketika diantara saudara-saudaraku ada yang saling ber-salahfaham hingga keluar statement “terjebak dalam sebuah spekulasi”. 


Bahagia yang Luar Biasa ketika aku melihat mereka saling tersenyum memikirkan ummat hingga kata sepakat keluar dari masing-masing mereka. Aku bersyukur kepadaMu ya Allah, Engkau telah menjodohkanku dengan FORMASI.


Di FORMASI, aku tak belajar banyak tentang organisasi karena jika membandingkan FORMASI jauh tak lebih baik dari organisasi-organisasi yang pernah aku ikuti. Namun ada hal besar yang jauh Lebih baik dari sekedar belajar organisasi, yaa di FORMASI aku belajar, aku punya saudara-saudara seperjuangan yang Hebat, sekali lagi aku belajar menjadi lebih baik bersama mereka.  UKHUWAH!! Jika kau ingin tahu nikmat dan indahnya ukhuwah, maka kau harus coba ukhuwah itu.


Senang baca tulisan KH Rahmat ‘Abdullah. “Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus' shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri). Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila 'hati saling bertaut dalam ikatan aqidah', ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta'lim, rukun Ukhuwah).”


Aku memahami, itu smua takdir Allah yang digariskan untukku, yang jauh sudah tertulis dalam kitab lauhul mahfudz. Satu hal, Allah tahu apa yang kita butuhkan meski terkadang bukan apa yang kita inginkan. Dan takdir Allah itu, sekenario Allah selalu Indah . 


Sujud sembah syukurku ya Rabb. Aku Berjodoh Dengan FORMASI.
Senyumku untuk kalian wahai saudara-saudaraku @P****IN, @Keputrian al-Khansa, @all brothers FORMASI

Daurah Calon Pengurus

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku adalah untuk Allah Tuhan seru sekalian alam.
Tidak ada sekutu bagiNya, dan itulah yang diperintahkan kepadaku
dan akulah orang-orang yang mula-mula masuk Islam.”
( Q.S.  Al An’am : 162-163 )


Departemen Keputrian
Ada beberapa hal dalam sebuah organisasi, yang tidak bisa disamakan antara ikhwan dan akhwat, diantaranya dari segi  Tarbiyah harian hingga pekanan. Mungkin terlihat sama, manhaj yang sama, materi yang sama namun perlu diingat treatment pada akhawat berbeda. Ini bukan satu-satunya alasan adanya divisi keputrian, namun hal diatas menjadi salah satu alasan. Maka divisi keputrian ada menjadi bagian dari lembaga dakwah kampus FORMASI UNIKOM yang diberi label “al-Khansa”.

Dalam divisi keputrian, ada proses kaderisasi dan syiar yang sangat khusus untuk akhawat dan prosesnya yang bersifat ‘ammah atau umum. Berbeda dengan divisi kaderisasi yang bekerja untuk menjadi agen perubah yang bersifat khass (khusus), lain lagi dengan divisi syiar yang prosesnya berupa “agen marketing” dalam organisasi berbasis Islam namun biasanya bersifat ‘ammah.

Oleh karena itu, dalam TOR divisi keputrian tidaklah jauh berbeda dengan TOR yang akan dibuat oleh divisi Kaderisasi dan divisi Syiar dalam rencana Daurah Calon Pengurus, yang merupakan bagian kecil proses pembinaan dan penjagaan dalam menuju perbaikan yang dinamis, hingga akhirnya tangan-tangan Allah lah yang akan merubahnya. Dalam proses berjalannya perjuangan di FORMASI UNIKOM, masih banyak qodoya yang belum terselesaikan, diantaranya:
  1. 1) Management waktu yang Luar Biasa terabaikan, masih dianggap hal yang sepele, dan berujung pada sebuah kebiasaan “Telat”.
  2. Management Prioritas, banyak para ADK yang belum “pandai” memahami tsaqofah yang diterima dalam tarbiyah bab siyasi.
  3. 3) Management Diri yang menurun drastis dengan ditandai, mereka masih mencari zona-zona nyaman!
  4. 4)   Etika pergaulan, terutama ikhwan dan akhwat juga akhwat dan akhwat yang jelek karena masih mengedepankan keegoisan hati, dan bekerja untuk mencari manfaat dirinya dengan tidak lagi melihat kerja saudara-saudarinya yang lain, begeser dari estetika dakwah yang bekerja untuk ummat.
  5. 5)  Belum dapat saling memahami dan melihat saudara-saudarinya dalam berbagai sudut pandang sehingga sering terjadi kesalahfahaman yang berujung pada “Terjebak dalam sebuah spekulasi”.
  6. 6) Virus Merah Jambu dan Power Post Syndrom, yang sedikitnya mempengaruhi kerja dakwah di FORMASI.


Berharap banyak, usaha kita dalam Daurah Calon Pengurus, PR-PR dapat terselesaikan, juga dapat membaca geliat kemunculan para pejuang estafet dakwah Raulullah atas izin Allah sehingga keputrian al-khansa FORMASI khususnya, bisa menerima tugas-tugas dakwah lainnya. Tidak lagi stagnan dalam qodoya klasik, karena menurut Rasulullah stagnan merupakan ciri Lemahnya Iman “Barang siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah kemunkaran itu dengan tanganmu.  Apabila tidak mampu maka dengan lisannya.  Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya.  Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Game dan Simulasi yang di rencanakan:

Yang Pertama Human Building!!
Mengikat bendera pada tali yang diikatkan antar pohon dan cukup tinggi, peserta team berusaha mendapatkan target mereka yaitu bendera. Dengan cara apa? Kreasi mereka dibutuhkan!! Berharap mereka membuat piramida manusia, untuk mencapai/ mengambil bendera. Mereka harus berusaha bekerja sama dan memahami peserta satu teamnya. Berisiko memang, tapi itulah tantangan.

Yang kedua, Making up of Fuzzle!!
Peserta diberi kertas yang sudah diberi kalimat/ kata-kata, misal “Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mati dalam keadaan tidak pernah berperang (berjuang) atau tidak pernah meniatkan pada dirinya sendiri (untuk berjuang) maka dia mati di atas satu cabang kemunafikan.” (H.R Muslim, An-Nasai dan Abu Daud). Dan Setiap peserta memiliki kesempatan merobek (random) hingga batas akhir waktu yang ditentukan (misal 1 menit). Setelah selesai, para peserta team berusaha menyusun kembali kertas yang sudah disobek hingga kembali sperti semula dalam waktu yang ditentukan (misal 5 menit). Ribet namun itu menjadi tantangan, sekaligus berharap mereka dapat menemukan ibrah nya.


Keterangan:
*Post power Syndrom m’rupakan sebuah penyakit dimana seseorang yang sudah terbiasa bekerja dengan jam terbang tinggi, berada pada kedudukan penting namun dalam mendinamisasikan dakwah ia harus menempati kedudukan yang bisa dibilang “kurang penting”, dan jam kerja yang luang. Maka orang tersebut merasa terasingkan, sehingga FLU (Futur Lesu Uzlah) menyerang. Dan biasanya potensi yang ada dalam dirinya tidak dikeluarkan atau mengendap karena penyakit hati lainnya menyerang.. penyakit ini Menular dan mudah terjangkit pada mereka yang sedang sakit Imannya..!!


Cimahi, 15 Mei 2011
Ketua Keputrian alkhansa
Nuraeni Ratnawati (10207704)
082.115.803.260